Ikon Suci yang Dicetak pada Uang Kertas Plastik '200 Tahun Kolonialisme': Wafatnya Sang Tetua Arnhem Land, Yunupingu
Seniman Aborigin Arnhem Land, Australia, T. Yunupingu, dan istrinya, C. Yunupingu, wafat pada bulan lalu dengan selang beberapa hari. Yunupingu pernah menggugat Reserve Bank of Australia ke Pengadilan Federal setelah bank sentral tersebut pada 1988, tanpa izin, mencantumkan gambarnya yang menggambarkan "Morning Star Pole"—citra yang, menurut profesor peneliti Aborigin Marcia Langton, bersifat "amat sangat sakral" dan "hanya muncul dalam ritual"—pada uang kertas plastik senilai 10 dolar Australia
Seniman Aborigin terkemuka dan pemimpin komunitas Arnhem Land, Australia, T. Yunupingu, beserta istrinya, C. Yunupingu, wafat pada bulan lalu dalam selang beberapa hari. Anggota keluarga yang dibesarkan oleh pasangan Yunupingu, Marina Deyunut (Wangurra), menceritakan kepada ABC News: "Mereka wafat dalam selang beberapa hari... benar-benar seperti kisah cinta yang nyata."
Akan tetapi, warisan yang ditinggalkan Tuan Yunupingu bagi Australia jauh melampaui satu karier seni dan satu pernikahan lintas budaya. Melansir ABC News, pada 1988 Reserve Bank of Australia, tanpa memperoleh otorisasi, mencetak gambar karyanya yang menggambarkan "Morning Star Pole"—citra yang, menurut deskripsi profesor peneliti Aborigin Marcia Langton, "amat sangat sakral" dan "hanya muncul dalam ritual"—ke atas uang kertas plastik senilai 10 dolar Australia yang pertama di dunia, untuk memperingati "200 tahun pemukiman Eropa".
Narasi Kolonial pada Mata Uang yang Beredar
Uang kertas plastik tersebut pada dasarnya merupakan penjelmaan material sebuah narasi kolonial: pada 1988—titik waktu perayaan ekspansi kolonial Britania—bank sentral Persemakmuran Australia menempelkan citra ritual paling sakral milik Aborigin pada uang yang beredar, tanpa izin dari pencipta gambarnya. Profesor Langton mengatakan kepada ABC News bahwa sifat "amat sangat sakral" dari citra tersebut membuat penggunaan ini bukan sekadar pelanggaran hak cipta biasa, melainkan menyentuh persoalan yang jauh lebih mendalam terkait ranah budaya dan spiritual Aborigin—suatu hal yang jelas tidak dipertimbangkan oleh bank sentral dalam desain uang peringatan kala itu.
Gugatan yang Kalah namun Menegakkan Preseden
Yunupingu mengajukan gugatan ke Pengadilan Federal melawan Reserve Bank atas perkara ini. Melansir ABC News, meskipun kasus tersebut berakhir dengan kekalahan, komentar hakim dalam putusannya secara luas dipandang sebagai penetapan preseden hukum baru. Profesor Langton mengatakan kepada ABC News: "Ini adalah kasus yang menegakkan prinsip bahwa karya seniman, terutama seniman Aborigin, tidak boleh digunakan tanpa izin."
Melampaui Seni: Lembaga dan Komunitas
Warisan Tuan Yunupingu jauh melampaui ranah seni. Melansir ABC News, ia juga memimpin reformasi "pengalihan kendali" layanan kesehatan di Wilayah Utara, dengan menyerahkan pengendalian layanan kesehatan kembali kepada komunitas Aborigin. Mantan menteri federal Urusan Aborigin, Nigel Scullion, mengenang kepada ABC News: "Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal, hanya lulus sekolah dasar di sekolah gereja, tetapi ia mampu memberikan kuliah kepada para profesor di seluruh dunia." Scullion menggambarkan Yunupingu sebagai "seorang negosiator yang sangat luar biasa, seorang diplomat agung", serta menyebut bahwa selama dirinya berkarier di dunia politik, Yunupingu "selalu membuat suaranya terdengar lewat diplomasi, bukan dengan berteriak".
Tuan Yunupingu merupakan putra dari filsuf dan diplomat legendaris David Burrumarra. Melansir ABC News, karya-karyanya hadir dalam bentuk mozaik di lantai Bondi Pavilion, Sydney, dan dikoleksi oleh berbagai museum seni di seluruh dunia. Sejarawan Wilayah Utara, Mike Owen, mengenang kepada ABC News bahwa ia pernah mengandalkan riwayat lisan Yunupingu untuk mengidentifikasi artefak purba dari wilayah-wilayah terpencil di Australia hingga Skotlandia, termasuk artefak yang digali pada 2019 di situs arkeologi Ness of Brodgar, Kepulauan Orkney.
Pasangan Lintas Budaya
Nyonya C. Yunupingu lahir di Trieste, Italia, dan bermigrasi ke Adelaide pada usia 12 tahun bersama keluarganya, sebelum kemudian berpindah ke Pulau Elcho, yang terletak di lepas pantai timur laut Arnhem Land, tempat ia bertemu Tuan Yunupingu. Pasangan ini menikah pada 1982 dan telah bersama selama hampir 45 tahun. Profesor Langton menggambarkan kepada ABC News bahwa ia "senantiasa mempertahankan sifat personal yang kuat, namun pada saat bersamaan menyatu secara sempurna dengan budaya Yolngu", dan merupakan "seorang perempuan yang sangat anggun, yang pada kesempatan apa pun secara bersamaan menaati adat Yolngu maupun adat Eropa".
Tanggal serta penyebab wafat keduanya tidak diungkap dalam pemberitaan ABC News.
Belum ada komentar. Mulai diskusi.